Menelisik Dampak Yang Dialami Oleh Penderita Hipersomnia

Hipersomnia dapat terjadi meski Anda telah tidur untuk waktu yang lama atau cukup.

sumber gambar: sehatq.com

Apa itu hipersomnia? Menurut artikel pada doktersehat.com, hipersomnia (Excessive Daytime Sleepiness) adalah suatu keadaan yang membuat seseorang merasa kecapekan atau lelah yang berlebihan pada waktu siang hari atau tidur nyenyak ketika malam hari meskipun sebelumnya sudah tidur dalam rentang yang lama. Apabila seseorang mengalami EDS setidaknya dalam waktu tiga bulan baru dikatakan sebagai hipersomnia. Dampak yang diakibatkan ialah rasa kantuk dan lelah yang parah sehingga mengalami kesulitan dalam melakukan aktivitas sehari-hari dan konsentrasinya terganggu. Sesuai dengan Healthline, biasanya menyerang pada pasien yang kelelahan pada siang hari. Dalam beberapa literatur menyebutkan bahwa penyebab hipersomnia terbagi menjadi dua, yaitu primer dan sekunder. EDS primer terjadi akibat gagalnya otak dalam pengaturan pola tidur dan bangun. Adapun EDS sekunder disebabkan adanya kualitas tidur yang buruk. Contoh kasusnya ialah sering terbangun ketika malam hari akibat pernapasan tidur terganggu. Akibatnya jam tidur seseorang pun jadi kacau.

National Sleep fondation menyatakan bahwa sekitar 40% orang memiliki gejala-gejala hipersomnia dari seiringnya waktu ke waktu. Bersumber dari sehatq.com, gejala yang dialami oleh penderita hipersomnia adalah sebagai berikut.

  1. Kurang bersemangat atau antusias.
  2. Kehilangan nafsu makan.
  3. Mudah marah.
  4. Sepanjang waktu terasa sangat lelah.
  5. Memori atau daya ingatnya mengalami gangguan.
  6. Sering mengantuk meskipun sudah tidur dalam jangka waktu yang panjang atau cukup.
  7. Sering merasa cemas atau khawatir.
  8. Risiko kecelakaan tinggi. Sebab pasien akan merasa kurang fokus dan sulit berkonsentrasi.
  9. Selalu membutuhkan waktu untuk tidur siang. Sesuai apa yang dilansir dalam WebMD, mereka akan tertidur di mana saja, entah di tempat kerja atau bahkan ketika menyetir.

Namun seperti kebanyakan kasus kesehatan, tidak semua penderita memiliki gejala atau tanda-tanda seperti yang dideskripsikan di atas. Bisa jadi seseorang memiliki gejala lain yang mana sesuai dengan kondisi tubuhnya.

Ada beberapa pemicu terjadinya hipersomnia adalah sebagai berikut.

  1. Depresi.
  2. Punya kebiasaan mengonsumsi narkoba dan alkohol.
  3. Adanya riwayat penyakit yang sama dalam keluarganya.
  4. Adanya gangguan tidur lain (apnea atau narkolepsi tidur).
  5. Berat badan yang berlebihan.
  6. Mengonsumsi obat-obatan yang sudah ditakarkan untuk penyakit lain atau menghentikan obat tertentu setelah kecanduan.
  7. Ketika malam hari tidak memiliki waktu tidur yang cukup.
  8. Memiliki gangguan saraf atau kasus cidera kepala lainnya akibat disfungsi sistem saraf otonom. Contohnya penyakit parkinson atau multiple sclerosis.

Jika anda atau kerabat anda mengeluhkan gejala atau tanda-tanda di atas sebaiknya segera berkunjung ke dokter. Nantinya dokter akan melakukan rangkaian tes dan penyelidikan riwayat kesehatan keluarga pasien untuk diagnosis. Rangkaian tes yang dilakukan untuk diagnosis hipersomnia adalah seperti yang di bawah ini.

  1. Sleep Diary

Berisi rekaman atau catatan tidur anda, baik dari waktu anda tidur hingga anda bangun kembali. Tak hanya itu, durasi atau lama tidur anda sebaiknya dicatat pula.

  1. Polysomnogram

Untuk pengetesan ini, anda diwajibkan untuk menginap di klinik khusus gangguan tidur kurang lebih selama satu malam. Nah pada saat tidur ini, dokter akan melakukan pemeriksaan terhadap pergerakan mata anda, pergerakan kaki, kadar oksigen, detak jantung, hingga aktivitas otak.

  1. Multiple Sleep Latency Test

Manfaat dari tes ini ialah untuk mengetahui besar kadar kantuk yang dirasakan oleh anda. Selain itu, dokter juga akan mengecek seberapa jauh anda dapat masuk ke dalam fase tidur siang anda. Tes ini dilakukan setelah melakukan tes polysomnogram.

  1. Epwroth Sleepines Scale

Anda disuruh untuk menilai rasa kantuk yang dirasakan. Hal ini berguna untuk mengetahui seberapa parah pengaruh kasus ini terhadap kegiatan anda sehari-hari.

Apabila anda memang terdiagnosis mengalami penyakit EDS maka segeralah melakukan pengobatan. Perawatan untuk hipersomnia adalah beraneka ragam disesuaikan dengan penyebab dasarnya. Obat narkolepsi sejenis modafinil (provigil), amphetamine, dan methylphenidate (Methylin, Metadate ER, Concerta, Metadate CD, Methylin ER, Ritalin LA, Ritalin-SR, atau Ritalin) mampu membuat anda merasa tidak mengantuk dan segar. Selain obat-obatan, perubahan pola hidup juga perlu dilaksanakan untuk menyembuhkan hipersomnia. Misalnya dengan membuat jadwal tidur yang teratur dan menghindari segala aktivitas yang memperburuk kondisi seseorang, terutama saat mencul waktu tidur. Tak hanya itu, dokter juga akan mengatur pola makan pasien dengan makanan kaya akan nutrisi agar energi tubuh dalam pasien tetapi terpenuhi. Hindari konsumsi minuman berkafein atau beralkohol.

Kesehatan

Leave a Reply

Comment
Name*
Mail*
Website*